Minggu, 12 Agustus 2012

MENGAPA SHALAT TIDAK DITERIMA?



Pentingnya Amal Diterima Oleh Allah
Amal shalih sangatlah penting, tetapi diterimanya amal shalih yang kita lakukan tidak kalah penting. Sebab, tidak semua amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia diterima oleh Allah.
Dahulu ada seorang sahabat yang ikut hijrah ke yatsrib (madinah) akan tetapi, ternyata hijrahnya bukanlah disebabkan menaati perintah Allah dan Rasulullah, tetapi karena wanita yang dia cintai juga ikut hijrah. Karena wanita tersebut bernama Umu Qais maka ia mendapat gelar Muhajir Umi Qais. Peristiwa itu dilaporkan kepada Rasulullah.
Rasulullah bersabda, “ sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.  Sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya itu. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Dan, barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diperolehnya atau wanita yang hendak dinikahinya maka ia mendapatkan apa yang diniatkannya,” (H.R Muslim).
Berdasarkan hadits di atas, dapat  disimpulkan bahwa tidak selamanya beribadah atau ketaatan kepada Allah mendapatkan pahala. Ada juga kemungkinan bahwa ada orang berbuat amal kebaikan, tetapi  ternyata  tidak diterima oleh Allah. Hal ini diperkuat dengan do’a yang biasa diucapkan oleh Nabi  saw. “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, amal yang tidak tidak diangkat, hati yang tidak khusyuk, dan do’a yang tidak diterima.”
Hadits lain yang memperkuat adanya kemungkinan amal tidak di terima adalah hadits yang mengisahkan tiga orang yang merasa berhak masuk surga. Tetapi ternyata mereka tidak bisa memasukinya bahkan mereka dicampakan ke dalam api neraka.
Nabi bersabda, “sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili adalah seseorang yang mati syahid. Ia didatangkan dan diberitahukan kenikmatannya sehingga ia pun mengetahuinya. Allah berfirman, “Apa yang telah kau lakukan?’ orang tersebut menjawab, Aku berperang karena-Mu. Sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Kau dusta. Kau berperang biar disebut gagah perwira dan itu sudah di katakan.’ Kemudian diperintahkannya untuk diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka... ”( Al--Hadits).
Kutipan hadits di atas menunjukan bahwa amal kebaikan tidak dengan sendirinya berbuah kebaikan jika tidak ada keikhlasan di dalamnya. Karena itu, penting bagi kita untuk mengusahakan agar amal kebaikan diterima bukan sekedar melakukan amal kebaikan.
Ilustrasi sederhana mengenai diterima dan tdaknya amal adalah seperti seseorang yang mengajukan lamaran pekerjaan. Jika seseorang melamar dengan surat yang lusuh, tulisannya jelek dan tidak terbaca, banyak coretannya,tulisannya dengan tinta merah, dan bahasanya tidak sopan maka kemungkinan besar lamaran tersebut akan ditolak.  Bahkan melamar sepuluh kali pun juga akan ditolak sepuluh kali.
Jika anda melamar pekerjaan dengan tulisan yang rapi. Bahasannya indah, kertasnya bersih, dan kata-katanya sopan, apakah ada jaminan lamaran Anda diterima? Belum tentu juga. Mungkin saja lamaran Anda tetap ditolak karena meskipun surat Anda bagus tetapi lampiran-lampiran yang Anda sertakan telah memenuhi syarat, maaka Anda juga tidak akan tetap diterima.
Jika anda melamar pekerjaan, surat lamaran sudah rapi ditulis, lampiran sudah disertakan, adakah jaminan Anda diterima? Belum tentu juga. Boleh jadi Anda tetap ditolak karena perusahaan tersebut mengetahui Anda orang yang tidak baik. Misalnya, suka menyakiti rekan kerja, suka mengambil barang perusahaan tanpa izin, dan sebagainya. Lalu, bagaimana agar Anda diterima kerja? Hanya ada satu jalan, penuhi semua yang diharapkan oleh perusahaan tersebut. Buat lamaran pekerjaan dengan sebaik-baiknya, penuhi syarat yang diinginkan, dan berbuatlah yang terbaik. Insya Allah lamaran Anda akan diterima. Ini hanya ilustrasi agar lebih mudah dipahami.
Keimanan adal Syarat Utama
                Dalam agama Islam, keimanan memiliki peranan yang menentukan diterimanya amal perbuatan seseorang. Sebab amal yang dilakukan oleh orang kafir tidak ada gunanya sama sekali. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Araf [7]:147)
                Perlu diketahui bahwa seseorang yang sudah Islam belum tentu hatinya beriman. Sebab, pintu masuk Islam adalah membaca dua kalimat syahadat maka berarti ia telah masuk Islam. Akan tetapi, belum tentu orang tersebut telah beriman.
                Allah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman. ‘Katakanlah,’Kamu belum beriman, tapi katakanlah : kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. ‘ Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (Q.S.Al-Hujurat [49]: 14)
Meskipun orang-orang Badui, dalam ayat di atas, sudah menyatakan keimanan, tetapi ternyata pernyataan tersebut dibantah oleh Allah. Sebab, sebenarnya mereka masih sekedar di bibir.
Banyak orang yang secara identitas kependudukan beragama Islam tetapi masih belum bisa dikatakan beriman. Sebab, di hati merka belum ada rasa percaya kepada Allah dan hari Akhir meskipun belum ada pembuktian. Percaya kepada Allah meskipuun belum pernah melihat Allah dan percaya pada hari Akhir meskipun ia belum pernah merasakan hari tersebut.
Tebal tipisnya keimanan seseorang kepad Allah dan hari Akhir akan tercermin dalam kekhusyukannya kepada Allah dan hari Akhir tipis tidaklah mungkin akan bisa khusyuk di dalam shalatnya. Adapun orang yang keimanannyaa kepada Allah dan harii Akhir penuh makashalatnya akan lebih mudah khusyuk. Hal ini sesuai dengan yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Q.S.Al-Baqarah [2]: 45-46)
Ayat di atas sangat tegas menyatakanbahwa orang yang khusyuk dalam shalatnya adalah mereka yang yakin akan bertemu Allah dan akan kembali kepada Allah. Bagaimana mungkin seseorang akan khusyuk dalam shalat apabila ia tidak yakin akan keberadaan Allah dan tidak yakin pula terhadap hari Kiamat.
Kekhusyukan Rasulullah, para sahabat, dan salafush shalih tidak lain disebabkan karena mereka memiliki keimanan yang kuat kepada Allah dan hari Akhir. Cobalah hadirkan keyakinan Anda kepada Allah dan hari Akhir, lalu ketika sedang shalat bayangkanlah bahwa Anda hendak melalui shirathal mustaqim, di bawah ada api yang menyala-nyala, dan di depan sana terhampar surga yang luas dan indah. Insya Allah shalat Anda akan lebih khusyuk daripada ketika Anda mengingat tugas-tugas kuliah yang menumpuk.
Keikhlasan Sangat Berperan untuk Diterimanya Shalat  
Keikhlasan memiliki peranan yang besar untuk diterimnya amal ibadah, termasuk di dalamnya shalat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agam yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;dan yang demikian itulah agama yang lurus .“( Q.S Al- Bayyinah [98]:5).
Lalu apa yang dimaksud dengan ikhlas? Ikhlas begitu mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Ikhlas berasal dari bahasa Arab, akhlasha-yukhlisu-ikhlash  yang artinya memurnikan. Kita diperintahkan  untuk memurnikan amal kita hanya karena Allah dan membersihkan amal dari motivasi-motivasi yang lain.
Amal perbuatan yang ikhlas harus bersih dari sifat pamer, yaitu melakukan suatu perbuatan karena ingin dipuji oleh manusia. Sebab, seseorang yang melakukan amal ibadah karena pamer tidak akan mendapatkan apa pun selain pujian dari orang lain sebagaimana hadits yang menceritakan orang yang mati syahid agar dijuluki sebagai orang yang gagah perwira.
Betapa sering kita tidak sengaja memamerkan amal perbuatan kita. Begitu licik dan licinnya iblis sehingga ia dengan halusnya menanamkan sifat pamer di dalam diri manusia. Seperti banyak orang syaitan membisikan kita untuk shalat dhuha, bukan karena mencari pahala dari Allah tetapi agar orang-orang yang ada disana memuji.
Perilaku ‘Riya juga bisa terjadi ketika seseorang memperbagus amal perbuatan saat  dilihat orang lain. Seseorang yang ketika shalat sendirian membaca surah terpendek,  sedangkan ketika menjadi iman membaca surah terpanjang adalah bukti dari sifat riya’ dalam dirinya.
Perilaku riya’ dalam shalat termasuk perilaku orang munafik. Jika diserukan untuk shalat mereka berdiri dengan bermalas-malasan. Mereka sebenarnya malas mengerjakan shalat dan mau mengerjakan karena ingin pamer  semata. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (Dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.’ (Q. S An- Nisa[4]:142)
Akan tetapi kita juga waspada karena begitu liciknya syaitan maka ia melarang kita beramal dengan menakut-nakuti kita dengan tidak ikhlas. Ketika kita hendak shalat, hendak puasa, bersedekah, dan mengerjakan kebaikan yang lain lalu jadi ragu dan takut tidak ikhlas, sebenarnya itu adalah bisikan syaitan aagar kita tidak jadi beramal. Lalu bagaimana seharusnya? Keikhlasan itu tidak ubahnya seperti orang yang buang hajat. Ia tidak pernah berpikir apa yang baru saja dibuangnya, apakah gulai kamping, bakso sapi, soto ayam, sate kuda, atau yang lainnya. Yang ia tahu hanyalah kotoran yang jika dibiarkan di dalam perut terus akan menimbulkan penyakit. Jadi, harus ia buang. Demikianlah semestinya keikhlasan itu.Meskipun amat berat, tetapi kita tetap harus melatihnya.
Selain riya’ atau pamer, bahaya yang menghilangkan keikhlasan adalah sum’ah dan ‘ujub. Jika riya artinya memamerkan amal perbuatan agar dilihat orang dan kemudian dipuji, sum’ah adalah menceritakan amal perbuatan agar dipuji.
Banyak orang yang melakukan amal perbuatan secara sembunyi-sembunyi sehingga tidak seorang pun yang mengetahuinya. Akan tetapi, ternyata orang tersebut tidak kuat menjaga keikhlasannya sehingga ia menceritakan amal tersebut kepada orang lain dan merasa bangga ketika orang memujinya. Orang yang demikian yang didapatkan hanyalah pujian tersebut.
Rasulullah bersabda,” Barang siapa memperlihatkan amal maka Allah akan memperlihatkan amal orang itu, dan barangsiapa memperdengarkan amal maka Allah akan memperdengarkan amal orang itu. “(H.R Baihaqi). Artinya jika seseorang berbuat kebaikan dengan tujuan agar dilihat orang maka Allah akan membuat amal tersebut dilihat orang. Dan jika orang melakukan amal kebaikan agar kebaikannya didengar orang maka Allah akan membuat amal tersebut didengar orang.
Artiny jika seseorang berbuat kebaikan dengan tujuan agar dilihat orang maka Allah akan membuat amal tersebut dilihat orang. Dan jika orang melakukan amal kebaikan agar kebaikannya didengar orang maka Allah akan membuat amal tersebut didengar oleh orang. Setelah itu, orang tersebut sudah tidak memilikii bagian apa pun dari amal kebaikannya. Sebab,apa yang menjadi tujuannya sudah tercapai, yaitu dilihat atau didengar oleh orang lain sehingga orang lain memujinya.
Lalu bagaimana orang yang tulus ikhlas beramal, tetapi tetap saja ada yang memujinya? Jika seseorang berbuat amal kebaikan dengan ikhlas, tetapi ternyata pahala di akhirat. Karena  itu, sekalipun Anda dipuji oleh orang lain karena rajin adzan dan shalat berjamaah di masjid, tetapi selama niat Anda karena Allah dan tidak mengharapkan pujian maka Allah tetap mendapatkan pahala dari Allah.
Selain riya’, dan sum’ah , ‘ujub juga dapat merusak amal perbuatan. ‘ujub adalah merasa kagum pada kebaikan diri sendiri. Kadang kala seseorang melakukan amal kebaikan diri sendiri dan berusaha menyembunyikan serta tidak menceritakan. Setelah ia berhasil menahan diri dari memperlihatkan amal dan memperdagangkan amal maka muncullah perasaan kagum pada keikhlasannya. Inilah yang disebut dengan ‘ujub. Dan, ini merusak amal perbuatan.
Menghilangkan sifat ‘ujub ini tidaklah mudah karena ‘ujub tersembunyi di dalam diri. Jika riya’dan sum’ah mungkin mudah dikenali oleh orang lain sehingga bisa saja orang tidak heran dan tidak kagum pada amal orang tersebut, tetapi  justru mencemooh seraya berkata,” Amal begitu saja dipamerkan.” Akan tetapi, ujub tidak mungkin diketahui oleh orang lain. Yang mengetahui seseorang ‘ujub atau tidak adalah Allah. Karena itu,’ujub lebih tersembunyi daripada riya’ dan sum’ah.
Ketika seseorang mendengarkan adzan maka ada dua pilihan baginya, shalat ataukah melanjutkan aktivitas. Ketika ia memilih shalat maka ada dua pilihan lagi, di masjid atau di rumah. Ketika ia melanjutkan shalat di masjid maka ada dua pilihan khusyuk atau tidak. Ketika iia mulai khusyuk, tiba-tiba ia berkata kepada dirinya sendiri, “Wah di kampung ini sepertinya tidak ada orang yang kalau shalat khusyuk seperti saya.” Nah, itulah perasaan ‘ujub yang bisa merusak amal perbuatan.
Seseorang memerlukan keikhlasan sebelum melakukan amal, ketika melakukan dan sesudah melakukannya. Keikhlasan sebelum melakukan amal adalah ketika seseorang mendengar suara adzan bergema, dengan tidak merasa keberatan sedikit pun ia meninggalkan aktivitasnya dan segera
Begitu tersembunyinya keikhlasan di dalam hati seseorang sehingga seseorang yang mengatakan, “ Sungguh aku ikhlas, “ adalah orang yang tidak ikhlas,sebab perkataannya tersebut hanyalah bertujuan menampakan keikhlasan dalam dirinya, padahal keikhlasan itu sesuatu yang tidak perlu di limpahkan. Bahkan , keikhlasan haruslah dirahasiakan dan jangan sampai diketahui oleh orang lain sebagaimana kita kencing, berak dan berhubungan suami istri. Kita tidak ingin ketiga hal itu dilihat orang lain sebagaimana kita tidak ingin kebaikan kita dilihat oleh orang lain.
Orang yang lalai dari shalatnya bukan saja shalatnya menjadi sia-sia. Lebih dari itu, orang yang lalai dari shalatnya diancam oleh Allah akan dimasukan ke dalam Neraka Wail. Allah berfirman.” Maka kecelekaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”( Q.S Al- Ma’un [107]:4-5).
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna kata sahun (lalai) dalam ayat di atas. Sebagian besar ulama berpendapat adalah orang-orang yang sibuk sehingga mengakhirkan shalat dari waktunya. Ada pula ulama yang menafsirkan bahwa orang yang lalai dari shalatnya adalah mereka yang apabila shalat pada awal waktu tidak merasa bahagia karena tidak menganggap bahwa itu adalah kebaikan, danjika mengerjakan shalat pada akhir waktu tidak bersedih dan tidak menganggap dirinya melakukan suatu kesalahan.
Ada pula ulama yang menafsirkan lalai dari shalat adalah hatinya tidak khusyuk sehingga ia lupa apakah shalatnya sudah mendapatkan tiga rakaat ataukah empat rakaat? Anda bisa membaca penjelasan masalah ini lebih rinci dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dan Tafsir Ibnu Katsir.
Keterangan para ulama sebagaimana dijelaskan meskipun tampaknya bertentangan satu dengan yang lainnya, tetapi sebenarnya saling terkait. Seseorang yang shalat pada awal waktu cenderung bisa lebih khusyuk, daripada shalat pada akhir waktu. Bagaimanakah suasana hati anda ketika anda sedang melaksanakan shalat Ashar menjelang waktu maghrib? Tentu perasaan anda tidak tenang karena terburu datangnya waktu maghrib. Anda akan lebih tidak tenang lagi ketika saat itu ada teman yang datang. Apalagi teman tersebut mengenal anda sebagai orang shalih dan pantas dianggap sebagai teladan. Jadi, bukankah waktu shalat sangat berkaitan dengan kekhusyuan shalat seseorang?




Hakikat Yang Mengetahui Sia-Sia Dan Tidaknya Sholat Hanyalah Allah
                Sesungguhnya yang mengetahui hakikat apakah sholat itu sia-sia atau diterima oleh Allah hanyalah Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikat sholatnya sendiri atau pun sholatsendiri sia-sia atau kah tidak. Meski pun demikian, bukan berarti tidak ada tolak ukurnya. Sebab, Allah dan Rasulullah sudah memberitahukan tolak ukur sholat yang diterima dan yang tidak diterima, yang bermanfaat dan yang sia-sia. Rasulullah saw bersabda,” Betapa banyak orang  berpuasa yang tidak memperoleh dari puasanya selain rasa lapar, dan betapa banyak orang sholat yang tidak memperoleh dari sholatnya tersebut selain begadang,” (H.R Ahmad).
                Hadits tersebut menunjukan kepada kita bahwa diantara orang yang berpuasa dan sholat ada yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasa dan sholatnya tersebut selain rasa lapar, haus, dan lelah karena begadang. Hadits tersebut diperkuat oleh hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami berikut.
“Tidaklah semua orang yang sholat itu sholat. Sesungguhnya Aku hanya hanya menerima sholat orang yang berendah hati terhadap keagungan-Ku , menahan syahwatnya dari apa yang Aku haramkan tidak terus-menerus berbuat durhaka kepada-Ku, memberi makanan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang ditimpa musibah, memberi tempat berlindung bagi orang asing (pengembara). Semua itu dikerjakan karena Aku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku. Sesungguhnya cahaya wudhunya orang yang sholat disisi-Ku lebih terang daripada sinar matahari. Tanggungan-Ku untuk menjadikan kebodohan menjadi sifat santun, kegelapan menjadi cahaya. Ia memanggilku dan Aku pun memenuhi panggilannya. Ia meminta kepada-Ku dan Aku pun memberinya...”
                Dari hadits yang telah dikutip diatas maka kita telah bisa mengetahui tolak ukur apakah sholat seseorang sia-sia ataukah tidak. Sholat yang sia-sia adalah sholat yang tidak diterima oleh Allah disebut sia-sia karena pada hakikatnya orang yang beribadah kepada Allah berharap agar peribadatannya diterima oleh-Nya.
                Jika diperhatikan secara rinci baik ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menjelaskan tentang shalat maka kita bisa membagi penyebab shalat yang sia-sia menjadi dua, yaitu sebab vertikal dan sebab horizontal. Yang dimaksud dengan sebab vertikal adalah sebab-sebab yang berkaitan dengan hak-hak Allah yang tidak ditunaikan, sedangkan yang dimaksud dengan sebab horizontal adalah sebab-sebab yang berkaitan dengan hak-hak anak Adam atau hak manusia. Berikut penjelasannya.
Sebab-Sebab Vertikal Shalat Menjadi Sia-sia
                Secara vertikal ada beberapa sebab yang menjadikan shalat seseorang menjadi sia-sia. Diantara sebab-sebab tersebut adalah sebagai berikut :
1.       Adanya kemusyrikan

Syirik adalah dosa kepada Allah yang bisa menggugurkan amal ibadah seseorang. Bahkan Allah mengancam para pelaku dosa syirik tidak mendapatkan ampunan jika mereka tidak bertobat dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguh ia telah membuat dosa besar.” (Q.S. An-nissa [4] : 48)

Syirik bisa dengan ucapan keyakinan dan perbuatan. Syirik menyebabkan amal perbuatan seseorang hancur termasuk shalatnya Imam Thabrani meriwayatkan hadits dari Tsauban bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga dosa besar yang membuat amal tidak bermanfaat. Menyekutukan Allah berbuat durhaka kepada orang tua dan lari dari medan peperangan.” (H.R.Thabrani)

2.       Adanya pamrih selain Allah

Cobalah kita perhatikan sesudah shalat adakah kita memiliki pamrih selain allah? Apakah kita benar-benar shalat karena Allah atau mengikuti kebiasaan semata, atau bahkan kita shalat karena pamer?

Jika kita ingin menguji apakah shalat kita sudah bersih dari segala pamrih duniawi maka tanyakan dahulu kepada diri anda. Apakah jika shalat kita dicela kita akan sakit hati? Jika tidak ada yang mengagumi shalat kita apakah kita akan kecewa? Jika anda sudah shalat 5 waktu tetapi apa yang menjadi keinginan kita juga tidak juga tercapai apakah anda akan prustasi? Jika kebetulan ada orang yang melihat shalat kita, apakah kita kemudian akan memperbagus shalat dan jika mereka memuji maka kita akan merasa bangga kiranya pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak cukup kita tanyakan sekali saja pada diri kita. Akan tetapi, setiap hendak shalat kita selalu menanyakan kepada diri sendiri agar shalat kita selalu terkontrol.

3.       Tidak sempurna Syarat dan Rukunnya

Shalat memiliki syarat dan rukunnya yang harus dipenuhi semuanya apabila seseorang shalatnya tidak memenuhi syarat dan rukunnya tanpa adannya udzur’ maka shalatnya menjadi batal dan jika shalatnya menjadi batal maka Allah tidak menerima shalat orang tersebut sehingga sia-sia lah shalatnya mengenai tidak diterimanya shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.”  {H.R.Bukhori)

Masih banyak hadits yang menunjukan bahwa Allah tidak menerima shalat bila shalat tersebut tidak dikerjakan sesuai dengan syarat rukun yang ada atau syarat rukunnya di sempurnakan tetapi ia melakukan perbuatan-perbuatan yang membatalkan shalat.

4.       Sombong dan terus mengerjakan maksiat

Allah tidak menerima  shalat orang yang sombong. Dia hanya menerima shalat orang-orang yang merendahkan hati kepada-Nya. Di dalam hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, “(Allah berfirman) Tidaklah setiap orang yang shalat itu shalat. Sesungguhnya Aku hanya menerima shalat dari orang yang berendah hati kepada keagungan-Ku, menahan syahwatnya dari hal-hal yang Aku haramkan dan tidak terus-menerus berbuat maksiat kepada-Ku.” (H.R. Ad-Dailami).

Begitu pula orang yang tidak bisa menjaga syahwatnya dari segala yang di haramkan dan apabila seseorang itu shalat kesombongannya semakin menjadi-jadi dan tidak mau merendahkan diri dihadapan Allah SWT maka Allah tidak menerima shalatnya. Orang yang terus menerus berbuat dosa  dan tidak bertaubat atau bertaubat lalu berdosa lagi juga termasuk orang yang terancam tidak di terima shalatnya oleh Allah. Kadang orang tidak terasa begitu mudahnya berbuat dosa, kadang merasa dan sadar berbuat dosa tetapi tidak mampu untuk menghentikannya. Padahal perbuatan yang demikian bisa menjadikan shalatnya tidak di terima di hadapan Allah.

5.       Memakan makanan yang haram
                       Didalam hadits, Rasulullah saw bersabda, “ Wahai sekalian manusia, sesungguhnya         Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman sebagaiman Diam memerintahkan para Rasul. Allah berfirman, “ Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik dan berbuatlah kebaikan.  Sesunggunya Aku Maha Mengetahui Apa yang kalian kerjakan. “ Dan Allah berfirman juga, “Wahai orang-orang yang beriman makanlah makanan yang baik-baik yang kami berikan kepadamu.
Diawal telah dijelaskan bahwa shalat adalah do’a. Dengan demikian hadits di atas juga meliputi orang yang shalat. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Baik akan menerima shalat kita jika makanan, minuman, dan pakaian semua di dapat dengan cara yang haram
6.       Mendahulukan atau mengakhirkan shalat dari waktunya
Shalat adalah ibadah wajib bagi seorang mukmin yang telah di tentukan waktunya sesuai dengan firman Allah.






” Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang di tentukan waktunya atas orang orang yang beriman.” (Q.S. An- Nisa 4: 45)





Sebab- sebab Horisontal shalat menjadi sia-sia         
1.       Tidak mencegah diri dari perbuatan yang mungkar
Dalam Al- Qur’an Allah berfirman






Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”. (Q.S Al Ankabut[29]:45 )  
Perbuatan keji menyangkut hak Allah, sedangkan perbuatan mungkar menyangkut hak manusia, artinya perbuatan zina disebut sebagai perbuatan keji sedangkan mungkar adalah perbuatan anggota tubuh.
2.       Enggan berbuat baik kepada orang lain
Kata shalat juga berarti rahmat atau kasih sayang. Dengan salam sebagai penutup, semestinya orang memberi keselamatan kepada orang di kanan dan kirinya, pada intinya orang enggan bersalaman atau bersilaturahmi.
3.       Seorang istri yang keluar rumah tanpa izin suami
Seorang istri wajib mematuhi suaminya. Jika hendak keluar meninggalkan rumah wajib ada izin dari suami meskipun untuk berkunjung kerumah orang tuanya.
Hadits Rasulullah saw,” ada tiga golongan yang tidak diterima shalat mereka. Wanita yang keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya; budak yang melarikan diri dari tuannya ; dan seorang laki-laki yang mengimami suatu kaum, sedangkan kaum itu tidak suka kepadanya; (H.R. Ibnu Abi Syaibah)
4.       Budak yang melarikan diri
Islam memang tidak menginginkan perbudakan. Karena itulah banyak perbuatan-perbuatan yang harus membebaskan budaknya, akan tetapi seorang budak boleh bebas begitu saja dengan melarikan diri dari tuannya tanpa di bebaskan dari tuannya atau menebus uang pembebasan.jika seorang budak  melarikan diri dari tuannya maka shlatnya tidak di terima oleh Allah SWT.
5.       Imam yang dibenci oleh makmum
Seorang imam dibenci oleh makmum disebabkan oleh tiga kemungkinan;
1.       Tingkah laku imam itu tidak terpuji, enggan membantu orang lain,suka menyakti hati dan perasaan dan sebainya
2.       Kemungkinan imam tersebut tidak bagus shalatnya
3.       Kemungkinan imam tidak disukai makmumnya di sebabkan karena memperlama shalatnya sehingga makmum merasa berat. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar